Kaltim Mantapkan Dukungan Asta Cita: Dari Ketahanan Pangan hingga Energi Hijau

JAKARTA – Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menegaskan komitmennya mendukung penuh pelaksanaan Asta Cita Prabowo–Gibran, khususnya dalam dua sektor strategis: ketahanan pangan dan energi nasional. Hal itu disampaikan Gubernur Kaltim, Dr. H. Rudy Mas’ud (Harum), saat menjadi narasumber dalam Leadership Forum CNN Indonesia bertajuk “Pilar Nusantara Penopang Asta Cita”, yang digelar di Auditorium Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Selasa (14/10/2025).

Dalam enam bulan terakhir, Pemprov Kaltim menunjukkan langkah nyata memperkuat ketahanan pangan melalui optimalisasi lahan eksisting, pembukaan area tanam baru, dan mekanisasi pertanian modern. Upaya tersebut berhasil meningkatkan produksi gabah menjadi 350 ribu ton, dan ditargetkan menembus 400 ribu ton pada akhir tahun.

“Dengan berbagai langkah konkret yang kami jalankan, Kaltim siap menjadi penopang utama ketahanan pangan nasional,” tegas Gubernur Harum di hadapan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dan para pemimpin daerah lainnya.


Energi untuk Nusantara

Sejak lama, Kaltim dikenal sebagai salah satu pilar energi Indonesia. Sejarah panjangnya bahkan dimulai sejak masa kolonial, ketika minyak pertama Indonesia ditemukan di Tarakan dan Sangasanga pada 1903. Kini, Kaltim memproduksi sekitar 53 ribu barel minyak dan 1,1 juta kaki kubik gas per hari, dengan proyeksi peningkatan hingga 100 ribu barel dan 1,8 juta kaki kubik pada 2028–2029.

“Inilah anugerah Kaltim untuk Indonesia. Berpuluh tahun kami menyalakan energi Nusantara. Dari gerbang timur ini, kami menerangi seluruh negeri,” ujar Gubernur Harum penuh semangat.

Kaltim juga menjadi kontributor terbesar batu bara nasional dengan produksi mencapai 437 juta ton per tahun, atau 52 persen dari total nasional. Batu bara tersebut menjadi penopang utama pembangkit listrik melalui skema Independent Power Producer (IPP).


Dorongan Hilirisasi dan Infrastruktur

Meski menjadi daerah kaya sumber daya, Gubernur Harum berharap pemerintah pusat memberi keleluasaan lebih besar bagi daerah penghasil seperti Kaltim untuk mengolah produk turunan sumber daya alam. Selain itu, ia menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur yang merata guna menghubungkan seluruh wilayah Kaltim.

“Dengan infrastruktur yang kuat, ekonomi daerah akan bergerak dinamis. Kami menargetkan pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 8 persen dengan inflasi yang tetap terkendali,” ujarnya.


Menuju Energi Hijau dan Kemandirian Bangsa

Kaltim juga terus mendorong pengembangan energi hijau berbasis sumber daya alam terbarukan. Salah satu fokusnya adalah biofuel dan biodiesel dari kelapa sawit, dengan produksi CPO mencapai 4,8–5,2 juta ton per tahun dari 1,5 juta hektare perkebunan sawit aktif.

Menurut Gubernur Harum, Indonesia masih berada pada tahap cadangan energi operasional, yang hanya mampu bertahan sekitar 22 hari. Karena itu, pengembangan energi baru terbarukan menjadi keharusan untuk mencapai ketahanan dan kemandirian energi nasional.

“Bangsa besar bukan karena tambangnya, tetapi karena ladang dan pangannya. Kita bisa swasembada pangan dan energi, bahkan menguasai dunia lewat kelapa sawit,” ucapnya tegas.


Membangun SDM Kaltim Lewat Program Gratispol

Tak hanya fokus pada sumber daya alam, Pemprov Kaltim juga tengah mempersiapkan sumber daya manusia unggul melalui Program Gratispol — program unggulan di bidang pendidikan, kesehatan, dan perumahan layak huni.

Program pendidikan gratis mulai dari SMA hingga S3 menjadi bukti keseriusan Kaltim dalam mengentaskan kemiskinan lewat peningkatan kualitas SDM.

“Kami ingin masyarakat Kaltim bukan hanya sejahtera, tapi juga cerdas dan berdaya saing,” tutup Gubernur Harum optimistis.(*)

Sumber IG Pemprov Kaltim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!