TANJUNG REDEB — Kemeriahan PBVSI Berau Open 2025 justru membuka fakta lain yang tak kalah penting: kondisi Gedung Olahraga (GOR) Pemuda di Tanjung Redeb dinilai semakin tidak layak. Ribuan penonton yang datang berdesakan, ruangan yang gerah, hingga sirkulasi udara yang buruk menjadi catatan serius dari berbagai pihak, termasuk anggota DPRD Berau sekaligus Wakil Ketua IV KONI Berau, Agus Uriansyah.
Menurut Agus, perkembangan dunia olahraga di Berau tak lagi sejalan dengan fasilitas yang tersedia. Ia menilai GOR Pemuda sudah “kehilangan kapasitas” untuk menjadi pusat kegiatan olahraga berskala besar.
“Penonton luar biasa banyak, tapi tempatnya tidak mendukung. Ruangan panas, udara tidak mengalir, dan kapasitasnya kecil. Ini sudah tidak cocok lagi untuk event besar,” tegasnya.
Agus menilai, kualitas pertandingan PBVSI Berau Open yang turut diikuti pemain Proliga serta berbagai daerah seharusnya bisa menjadi momentum evaluasi pemerintah. Apalagi, turnamen tersebut juga menjadi wadah pembinaan bagi atlet-atlet muda Berau yang sedang berkembang.
“Event ini sangat penting untuk memotivasi atlet kita. Tapi bagaimana mereka mau berkembang maksimal kalau fasilitasnya tidak mendukung?” ujarnya.
Ia mengungkapkan, sebagian klub yang tampil dalam turnamen tersebut hadir dengan kualitas permainan yang meningkat signifikan. Namun, standar sarana pertandingan di tingkat daerah masih menjadi soal klasik yang tak kunjung tuntas.
Agus pun mendesak pemerintah daerah untuk mempercepat realisasi pembangunan gedung olahraga baru.
Menurutnya, tingginya antusiasme masyarakat menjadi bukti bahwa kebutuhan fasilitas modern bukan lagi wacana, melainkan tuntutan.
“Minat olahraga di Berau terus naik. Pemerintah harus hadir dan memastikan masyarakat punya tempat yang layak. GOR Pemuda sudah tidak bisa mengikuti perkembangan itu,” katanya.
Rencana pembangunan sport center yang masuk dalam rencana anggaran 2026, kata Agus, harus benar-benar dieksekusi, bukan sekadar rencana di atas kertas.
Keberadaannya akan sangat penting dalam mendukung peningkatan prestasi atlet lokal, terutama menjelang Babak Kualifikasi Pekan Olahraga Provinsi (BK Porprov) pada 8 Desember mendatang di Kutai Barat.
“Ini soal nama baik daerah. Persiapan atlet harus didukung fasilitas yang memadai,” tambahnya.
Tingginya minat masyarakat, kualitas pertandingan yang semakin kompetitif, dan beban kegiatan olahraga yang makin besar membuat Agus menilai bahwa urgensi pembangunan fasilitas olahraga baru tidak bisa lagi ditunda.
“Kondisi GOR Pemuda sekarang jelas tidak layak. Pemerintah harus bergerak cepat menyediakan gedung olahraga yang representatif dan modern,” pungkasnya.(*)
