5 Raja Batu Bara Indonesia: Kekayaan Tetap Menggunung di Tengah Harga yang Bergejolak

Jakarta — Harga batu bara dunia sempat melemah sepanjang 2024 hingga awal 2025. Lonjakan produksi di sejumlah negara, termasuk India, menekan harga komoditas energi tersebut. Meski begitu, kondisi ini tidak menggoyahkan posisi para pengusaha tambang besar Indonesia. Para taipan batu bara justru tetap bertahan di jajaran orang terkaya nasional.

Pada awal Desember 2024, harga batu bara acuan Newcastle untuk kontrak Januari 2025 berada di level US$136 per ton, turun sekitar 2,1%. Namun, skala bisnis yang besar, efisiensi operasional, serta kepemilikan aset strategis membuat kekayaan para pemain utama tetap menggunung.

Low Tuck Kwong, Penguasa Bayan Resources

Low Tuck Kwong mengendalikan PT Bayan Resources, perusahaan batu bara dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia. Ia membangun bisnis tambangnya secara agresif dan konsisten. Forbes menempatkan Low sebagai orang terkaya keempat di Indonesia dengan kekayaan mencapai US$24,9 miliar.

Keluarga Widjaja dan Kekuatan Sinar Mas

Keluarga Widjaja menjalankan bisnis energi melalui Sinar Mas Group. Lewat PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA), mereka mengelola berbagai aset batu bara, termasuk Golden Energy and Resources serta PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS). Aktivitas tambang di dalam dan luar negeri, termasuk Australia, menopang total kekayaan keluarga ini hingga US$28,3 miliar.

Boy Thohir dan Adaro Energy

Garibaldi “Boy” Thohir mendirikan PT Adaro Energy Indonesia Tbk bersama Teddy Rachmat dan Edwin Soeryadjaya. Adaro tumbuh menjadi salah satu produsen batu bara terbesar di Indonesia. Saat melantai di bursa pada 2008, Adaro mencatatkan salah satu IPO terbesar kala itu. Forbes memperkirakan kekayaan Boy Thohir mencapai US$3,8 miliar.

Kiki Barki, Pendiri Harum Energi

Kiki Barki memulai bisnis batu bara sejak 1995 melalui PT Harum Energi Tbk. Ia juga mengelola tambang swasta Tanito Harum. Saat ini, Kiki melibatkan generasi penerusnya untuk menjaga keberlanjutan usaha. Forbes mencatat nilai kekayaannya sekitar US$1,3 miliar.

Edwin Soeryadjaya, Investor Senior Tambang

Edwin Soeryadjaya memperluas portofolio bisnisnya ke sektor batu bara sejak era booming komoditas pada 2000-an. Selain aktif melalui PT Saratoga Investama Sedaya Tbk, ia terlibat dalam berbagai proyek pertambangan. Forbes mencatat kekayaan Edwin mencapai US$1,2 miliar pada 2025.

Di tengah fluktuasi harga dan tekanan transisi energi global, kelima raja batu bara ini menunjukkan ketangguhan bisnisnya. Selama permintaan energi fosil masih bertahan, sektor batu bara tetap menjadi salah satu penopang utama kekayaan para konglomerat Indonesia.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!