Pelindo Terminal Petikemas Bidik 13,77 Juta TEUs di 2026, Optimistis Tumbuh 5 Persen

SURABAYA – PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) menargetkan arus peti kemas mencapai 13,77 juta TEUs di seluruh terminal yang dikelolanya sepanjang 2026. Target tersebut diproyeksikan tumbuh 5 persen secara tahunan, seiring meningkatnya aktivitas industri dan perdagangan nasional.

Corporate Secretary Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, mengatakan optimisme perseroan ditopang oleh solidnya pertumbuhan ekonomi nasional yang menjadi katalis utama peningkatan arus logistik.

“Kami optimistis melihat geliat industri di berbagai daerah. Pertumbuhan ekonomi nasional menjadi bahan bakar utama bagi kami untuk mencapai target ini,” ujar Widyaswendra di Surabaya, Selasa.

Ia menjelaskan, sejumlah terminal diproyeksikan menjadi motor penggerak pertumbuhan arus peti kemas pada 2026. Terminal Peti Kemas Kendari, misalnya, didorong oleh peningkatan ekspor nikel yang terus menunjukkan tren positif.

Di Kalimantan Utara, Terminal Peti Kemas Tarakan bersiap mengoptimalkan potensi logistik gas alam cair (LNG). Sementara di kawasan timur Indonesia, Terminal Peti Kemas Merauke mencatat kenaikan arus barang seiring masifnya dukungan logistik terhadap proyek strategis nasional (PSN).

Untuk wilayah Jawa, Terminal Peti Kemas Semarang diperkirakan semakin sibuk sejalan dengan berkembangnya Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) dan Kawasan Industri Kendal (KIK). Pertumbuhan kawasan industri tersebut mendorong peningkatan aktivitas ekspor-impor, khususnya sektor manufaktur.

Dari sisi kinerja, Pelindo Terminal Petikemas mencatat arus peti kemas luar negeri sepanjang 2025 mencapai 4,40 juta TEUs, tumbuh 10,28 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian tersebut terdiri atas 2,12 juta TEUs impor, 2,25 juta TEUs ekspor, serta 30 ribu TEUs transhipment.

Untuk menopang target 2026, perseroan akan memperkuat fasilitas operasional melalui penambahan alat bongkar muat baru di sejumlah terminal. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus kualitas layanan.

“Sejumlah terminal yang kami kelola akan dilengkapi alat bongkar muat baru guna meningkatkan kualitas layanan peti kemas,” tambah Widyaswendra.

Optimisme terhadap pertumbuhan arus logistik juga disampaikan pelaku industri. Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI), Benny Soetrisno, memperkirakan ekspor Indonesia akan tumbuh sekitar 7 persen pada 2026, didorong semakin luasnya perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement/FTA) dengan negara mitra.

“FTA membuka akses pasar yang lebih luas dan menurunkan hambatan tarif, sehingga produk ekspor Indonesia menjadi lebih kompetitif,” jelas Benny.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Trismawan Sanjaya, memproyeksikan sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 10–11,6 persen, dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) diperkirakan mencapai Rp1.700 triliun.

Menurut Trismawan, pertumbuhan tersebut didorong oleh pesatnya perdagangan digital dan e-commerce, serta meningkatnya kebutuhan logistik untuk proyek ketahanan pangan dan berbagai program strategis pemerintah.

Dengan kombinasi pertumbuhan ekspor, penguatan industri, serta ekspansi infrastruktur logistik, 2026 diproyeksikan menjadi tahun akselerasi bagi sektor kepelabuhanan dan peti kemas nasional.

Source : Media Jatim.antaranews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!