TANJUNG REDEB – RSUD dr Abdul Rivai Kabupaten Berau menggelar kegiatan Family Gathering dalam rangka memperingati Hari Hipertensi Sedunia atau World Hypertension Day 2026, Minggu (21/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Tunggu Poliklinik RSUD dr Abdul Rivai sejak pukul 07.00 hingga 10.00 WITA ini diikuti pasien Hemodialisis (HD), pasien Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD), keluarga pasien, serta tenaga kesehatan.

Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan tersebut juga menjadi wadah edukasi kesehatan, penguatan dukungan keluarga, serta evaluasi pelayanan bagi pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani terapi cuci darah.
Direktur RSUD dr Abdul Rivai Berau, dr Jusram mengatakan, pemilihan tema kegiatan tidak terlepas dari hubungan erat antara hipertensi dengan penyakit ginjal kronis.
“Hipertensi dan penyakit ginjal kronis memiliki hubungan yang sangat erat. Tekanan darah tinggi menjadi salah satu penyebab utama kerusakan ginjal hingga pasien membutuhkan terapi cuci darah,” jelasnya.
Menurutnya, melalui kegiatan ini pihak rumah sakit juga ingin mendengar langsung pengalaman, masukan, dan kebutuhan pasien maupun keluarga selama mendapatkan layanan hemodialisis dan CAPD.
“Kami tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga ingin mengetahui masukan dari pasien sebagai pengguna layanan. Ini menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan,” ujarnya.
dr Jusram mengungkapkan, hipertensi masih menjadi faktor terbesar penyebab pasien gagal ginjal kronis yang menjalani terapi cuci darah di Kabupaten Berau. Selain hipertensi, penyakit diabetes juga menjadi penyumbang kasus terbanyak.
“Dua penyakit tidak menular ini, yaitu hipertensi dan diabetes, menjadi penyebab utama meningkatnya risiko gagal ginjal,” katanya.
Berdasarkan data RSUD dr Abdul Rivai, pada tahun 2024 tercatat lebih dari 300 pasien dengan penyakit ginjal kronis menjalani pengobatan dan pemantauan kesehatan.
Meski penyakit ginjal kronis belum dapat disembuhkan secara total, dr Jusram menyebut kondisi pasien tetap dapat dikendalikan melalui terapi rutin, pola hidup sehat, serta kepatuhan terhadap anjuran medis.
“Pasien tetap dapat menjalani aktivitas dengan baik apabila rutin melakukan terapi dan menjaga kondisi kesehatannya,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam keberhasilan pengobatan pasien cuci darah. Dukungan keluarga diperlukan untuk memberikan motivasi, membantu menjaga pola hidup, hingga memastikan pasien menjalani terapi secara disiplin.
“Keluarga merupakan bagian penting dalam proses perawatan pasien. Dukungan mereka sangat membantu pasien tetap semangat menjalani pengobatan,” tambahnya.
Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan, RSUD dr Abdul Rivai Berau juga berencana memindahkan layanan hemodialisis ke bekas ruang UGD lama. Pemindahan ini bertujuan memperluas kapasitas layanan cuci darah.
“Rencananya layanan hemodialisis akan dipindahkan ke UGD lama. Kapasitas mesin yang sebelumnya delapan unit diharapkan dapat bertambah menjadi sekitar 15 hingga 20 unit,” jelas dr Jusram.
Dengan penambahan kapasitas tersebut, pelayanan pasien cuci darah di Kabupaten Berau diharapkan menjadi lebih maksimal dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Pada momentum Hari Hipertensi Sedunia, RSUD dr Abdul Rivai mengajak masyarakat melakukan pencegahan sejak dini melalui pemeriksaan kesehatan rutin, terutama bagi penderita hipertensi dan diabetes.
“Mengontrol tekanan darah dan gula darah secara rutin sangat penting. Pencegahan lebih baik dibandingkan harus menjalani pengobatan dalam jangka panjang,” tegasnya.
Salah satu peserta kegiatan, Yaminto, mengaku kegiatan Family Gathering memberikan manfaat bagi pasien cuci darah karena tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga menambah pengetahuan tentang menjaga kesehatan ginjal.
“Kegiatan seperti ini sangat baik karena pasien bisa saling berbagi pengalaman dan mendapatkan edukasi untuk menjaga kondisi tubuh,” ujarnya.
Melalui kegiatan Hari Hipertensi Sedunia ini, RSUD dr Abdul Rivai Berau berharap kesadaran masyarakat terhadap bahaya hipertensi, diabetes, dan penyakit ginjal kronis semakin meningkat.
Upaya pencegahan dan deteksi dini diharapkan mampu menekan angka pasien gagal ginjal yang membutuhkan terapi cuci darah di Kabupaten Berau.(*)
Editor :DM
