BERAU – Sosok Dr. Bustan, S.E., M.Si. menjadi representasi kuat konsep “Putra Daerah untuk Daerah” yang tak hanya berakar pada identitas lokal, tetapi juga mengusung semangat inklusif dan nasionalis lintas generasi serta lintas suku.
Lahir di Maluang, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, pada 30 Juni 1974, Dr. Bustan tumbuh dari lingkungan masyarakat lokal yang membentuk pemahamannya terhadap dinamika sosial dan kebutuhan daerah. Perjalanan akademiknya dimulai dari jenjang Sarjana Ekonomi di Universitas Muhammadiyah Berau, kemudian berlanjut ke Magister Ekonomi Pembangunan dengan konsentrasi Keuangan Daerah di Universitas Gadjah Mada (UGM), hingga meraih gelar Doktor Program Ilmu Ekonomi dari Universitas Padjadjaran Bandung (Unpad).

Bekal akademik tersebut menjadi fondasi kuat dalam perjalanan kariernya di pemerintahan, khususnya di Provinsi Kalimantan Utara. Dr. Bustan tercatat pernah menjabat sebagai Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan, posisi strategis yang berperan dalam merumuskan arah kebijakan ekonomi daerah.
Tidak hanya itu, ia juga dipercaya mengemban amanah sebagai Penjabat (Pj) Wali Kota Tarakan pada tahun 2024. Dalam peran tersebut, ia mengoordinasikan berbagai program pemerintahan dan memastikan pelayanan publik tetap berjalan optimal.
Kariernya berlanjut ketika dilantik sebagai Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Utara pada 17 April 2025. Ia mengemban tugas tersebut hingga 19 Desember 2025, bertepatan dengan dilantiknya Sekretaris Daerah definitif. Selama masa jabatan tersebut, Dr. Bustan berperan penting dalam mengoordinasikan jalannya pemerintahan dan memastikan sinkronisasi program pembangunan daerah.
Saat ini, Dr. Bustan kembali mengemban amanah sebagai Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Utara. Dalam posisi tersebut, ia terus berkontribusi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, memperkuat perencanaan pembangunan, serta memastikan kebijakan yang diambil selaras dengan kebutuhan masyarakat.
Lebih dari sekadar birokrat, Dr. Bustan dipandang sebagai figur yang membawa perspektif kepemimpinan kontekstual. Pengalamannya sebagai putra daerah memberinya sudut pandang yang dekat dengan realitas masyarakat, mulai dari tantangan pembangunan hingga potensi daerah yang perlu dikembangkan.
Namun demikian, narasi “Putra Daerah untuk Daerah” yang melekat pada dirinya tidak berhenti pada identitas lokal semata. Dr. Bustan juga menempatkan diri sebagai figur yang merangkul seluruh kalangan—lintas suku, komunitas, dan generasi, termasuk generasi muda hingga generasi Z.
Pendekatan ini mencerminkan visi kepemimpinan yang inklusif, di mana pembangunan tidak hanya berorientasi pada kelompok tertentu, tetapi menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Dengan semangat nasionalisme, ia menempatkan keberagaman sebagai kekuatan dalam mendorong kemajuan daerah.
Kehadiran Dr. Bustan di panggung pemerintahan Kalimantan Utara pun menjadi simbol bahwa putra daerah mampu berkontribusi secara luas, tidak hanya memahami akar persoalan daerahnya, tetapi juga membawa perspektif yang terbuka dan menyatukan.
Melalui rekam jejak dan pengabdiannya, Dr. Bustan menunjukkan bahwa kepemimpinan daerah tidak sekadar soal jabatan, melainkan tentang komitmen, pemahaman, dan keberpihakan terhadap masyarakat secara menyeluruh.(*)
