SAMARINDA – Anggota Komisi II DPR RI Fraksi PKS Dapil Kalimantan Timur, KH Aus Hidayat Nur, mengingatkan pentingnya menjaga kondusivitas daerah di tengah pesatnya perubahan yang terjadi di Kalimantan Timur.
Dalam tulisannya, ia menyoroti dua hal utama yang perlu menjadi perhatian para elite politik sebelum memicu dinamika yang berpotensi memecah stabilitas daerah.
Pertama, Kalimantan Timur dinilai memiliki kekayaan alam, keindahan, serta masyarakat yang dikenal ramah dan harmonis. Kedua, sejarah telah banyak mencatat bahwa ambisi berlebihan dan konflik kepentingan justru berujung pada kerugian bersama.
KH Aus menggunakan analogi “kepiting dalam ember” untuk menggambarkan kondisi sosial-politik. Ia menjelaskan, ketika satu pihak berupaya naik, pihak lain justru menariknya turun, hingga akhirnya semua terjebak dalam situasi yang merugikan bersama.
“Jika pola ini terus terjadi, maka tidak ada yang benar-benar keluar sebagai pemenang,” tulisnya.
Ia juga menyinggung sejumlah contoh konflik global, seperti yang terjadi di Somalia, di mana perebutan kekuasaan justru berujung pada kehancuran negara dan penderitaan rakyat.
Menurutnya, Kalimantan Timur saat ini berada di titik krusial, terutama sejak pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) mulai berjalan. Arus investasi, pembangunan infrastruktur, serta masuknya penduduk dari berbagai daerah membawa peluang besar, namun juga potensi gesekan sosial.
“Perubahan besar bukan hanya menghadirkan kesempatan, tetapi juga tantangan yang harus diantisipasi bersama,” ujarnya.
Selain itu, ia mengingatkan dampak global seperti krisis energi dan ekonomi yang turut dirasakan masyarakat, meskipun para pejabat kerap berada dalam posisi yang relatif aman karena fasilitas negara.
KH Aus menilai, elite politik seharusnya lebih peka terhadap kondisi riil masyarakat, seperti antrean bahan bakar minyak dan kenaikan harga kebutuhan pokok.
Ia menegaskan bahwa amanah jabatan harus digunakan untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat, bukan sekadar kepentingan politik.
Lebih jauh, ia juga menyinggung paradoks yang terjadi di daerah kaya sumber daya seperti Kalimantan Timur, namun masih menghadapi persoalan infrastruktur dan energi.
“Jangan sampai kita sibuk mempertontonkan kemewahan di tengah rakyat yang masih menghadapi berbagai kesulitan,” tegasnya.
Di akhir tulisannya, Aus mengajak seluruh pihak untuk melakukan introspeksi dan mengedepankan kepentingan bersama.
Ia menekankan pentingnya membuka ruang dialog, mendengar aspirasi masyarakat, serta menahan diri dari konflik yang tidak produktif.
“Yang dibutuhkan saat ini adalah kebesaran hati dan keberpihakan pada rakyat, bukan pertarungan ego,” pungkasnya.(*)
