BERAU, KALIMANTAN TIMUR – Nama Paduka Yang Mulia (PYM) Adji Raden Muhammad Bakhrun bin Adji Raden Muhammad Hamzah Bin Sultan Muhammad Siranuddin kini menjadi sosok yang identik dengan perjalanan baru Kesultanan Gunung Tabur. Sebagai Sultan Gunung Tabur, beliau mengemban amanah besar untuk menjaga marwah kesultanan, melestarikan adat istiadat, serta meneruskan warisan sejarah yang telah menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Berau selama berabad-abad.
Terpilih melalui musyawarah keluarga besar dan kerabat Kesultanan Gunung Tabur pada 10 Agustus 2024, Adji Raden Muhammad Bakhrun memperoleh dukungan mayoritas dari para ahli waris dan kerabat kesultanan. Kepercayaan tersebut menjadi bukti kuat atas legitimasi dan harapan besar yang diberikan keluarga besar kesultanan kepada dirinya untuk memimpin serta menjaga keberlangsungan Kesultanan Gunung Tabur di masa kini dan masa mendatang.

Perjalanan itu mencapai puncaknya saat beliau resmi dikukuhkan sebagai Sultan Gunung Tabur pada 26 September 2024 dalam prosesi adat yang berlangsung khidmat dan penuh makna. Pengukuhan tersebut bukan sekadar seremoni adat, melainkan peneguhan amanah untuk menjaga kehormatan kesultanan serta melanjutkan nilai-nilai luhur yang diwariskan para sultan terdahulu.
Sebagai Sultan Gunung Tabur, Adji Raden Muhammad Bakhrun dikenal memiliki komitmen kuat terhadap pelestarian adat dan budaya. Baginya, kesultanan bukan hanya simbol sejarah, tetapi juga institusi budaya yang memiliki tanggung jawab menjaga identitas masyarakat, mempererat persaudaraan antarkerabat, serta mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus.
Di bawah kepemimpinannya, Kesultanan Gunung Tabur terus menunjukkan eksistensinya di tengah perkembangan zaman. Sultan Adji Raden Muhammad Bakhrun aktif menghadiri berbagai kegiatan adat, budaya, dan pertemuan kerajaan di berbagai daerah di Indonesia. Kehadiran beliau dalam berbagai forum kerajaan dan kesultanan nusantara menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan antarkerajaan, memperkuat persatuan budaya bangsa, serta memperkenalkan sejarah dan kebesaran Kesultanan Gunung Tabur kepada masyarakat yang lebih luas.

Tidak hanya di Kalimantan Timur, Sultan Adji Raden Muhammad Bakhrun juga menjalin silaturahmi dengan berbagai kerajaan, kesultanan, dan lembaga adat dari berbagai provinsi di Indonesia. Langkah tersebut menunjukkan bahwa Kesultanan Gunung Tabur tetap memiliki posisi dan peran penting dalam jaringan kerajaan nusantara yang terus berupaya menjaga warisan budaya bangsa.

Sebelum dipercaya menjadi Sultan Gunung Tabur, Adji Raden Muhammad Bakhrun telah lama terlibat dalam berbagai aktivitas kesultanan. Pengalaman tersebut membuatnya memahami secara mendalam sejarah, adat istiadat, serta tantangan yang dihadapi Kesultanan Gunung Tabur dalam menjaga eksistensinya di era modern.
Di mata banyak kalangan, sosok Sultan Adji Raden Muhammad Bakhrun tidak hanya dipandang sebagai penerus tahta adat, tetapi juga sebagai penjaga warisan sejarah dan budaya yang memiliki tanggung jawab besar terhadap masa depan kesultanan. Kepemimpinannya diharapkan mampu menjaga persatuan keluarga besar Kesultanan Gunung Tabur sekaligus memperkuat peran kesultanan dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Berau.
Kini, di bawah kepemimpinan Paduka Yang Mulia Adji Raden Muhammad Bakhrun, Kesultanan Gunung Tabur memasuki babak baru yang penuh harapan. Dengan semangat menjaga tradisi, mempererat persaudaraan, dan melestarikan budaya leluhur, beliau terus berupaya memastikan bahwa marwah Kesultanan Gunung Tabur tetap berdiri tegak, dihormati, dan diwariskan kepada generasi-generasi yang akan datang.
“Kesultanan bukan hanya tentang masa lalu, tetapi tentang bagaimana warisan leluhur tetap hidup, dihormati, dan menjadi kebanggaan bagi anak cucu di masa depan.” Kalimat tersebut menjadi gambaran semangat yang kini terus dibawa oleh PYM Adji Raden Muhammad Bakhrun dalam memimpin Kesultanan Gunung Tabur.(*)
