Laba Melejit, Saham Emiten Properti Grup Aguan Masih Tertekan, Analis Sarankan Buy

Jakarta – Meski membukukan pertumbuhan laba yang signifikan pada kuartal I 2026, harga saham emiten properti yang terafiliasi dengan pengusaha Sugianto Kusuma atau Aguan masih berada dalam tren pelemahan sepanjang tahun ini.

Berdasarkan data perdagangan, saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) telah terkoreksi sekitar 48,6 persen secara year to date (YTD), sementara PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) turun lebih dalam hingga sekitar 60 persen sejak awal 2026.

Padahal, dari sisi fundamental, kedua emiten menunjukkan kinerja yang cukup solid. PANI membukukan pendapatan sebesar Rp1,1 triliun pada kuartal I 2026 atau tumbuh 82 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Laba bersihnya bahkan melonjak lebih dari sepuluh kali lipat menjadi Rp578 miliar.Sementara itu, CBDK mencatat pendapatan Rp743 miliar atau naik 74 persen secara tahunan, dengan laba bersih yang melonjak 317 persen menjadi Rp542 miliar.

Meski mencatatkan kinerja positif, kedua perusahaan memilih membagikan dividen dalam jumlah terbatas. PANI dan CBDK sama-sama menetapkan dividen tunai sebesar Rp5 per saham dari laba tahun buku 2025.

Kebijakan tersebut diambil karena perusahaan masih memprioritaskan pendanaan untuk pengembangan proyek, khususnya kawasan PIK 2.Analis menilai tekanan terhadap harga saham PANI dan CBDK lebih dipengaruhi kondisi pasar dibandingkan penurunan kinerja perusahaan.

Gejolak pasar saham, tingginya suku bunga, lemahnya daya beli masyarakat, serta meningkatnya ketidakpastian ekonomi global menjadi faktor utama yang membebani sektor properti.Meski demikian, prospek jangka menengah dinilai masih positif.

Fundamental perusahaan yang kuat, cadangan lahan strategis, serta potensi peningkatan penjualan properti diyakini dapat menjadi katalis pertumbuhan ke depan.

Sejumlah analis masih memberikan rekomendasi buy terhadap saham PANI. Target harga yang dipatok berada pada kisaran Rp7.275 hingga Rp9.800 per saham, dengan harapan kondisi pasar akan membaik seiring meningkatnya aktivitas ekonomi dan kepercayaan masyarakat terhadap sektor properti.

Pelaku pasar tetap diimbau mencermati perkembangan suku bunga, kondisi ekonomi domestik, dan sentimen global yang diperkirakan masih akan menjadi faktor penentu pergerakan saham sektor properti sepanjang tahun 2026.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!