Pesawat OMC Sudah Tiba di Berau, 10 Ton Garam Disiapkan untuk Modifikasi Cuaca

INFOBERAUKU, TANJUNG REDEB — Pesawat pendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) telah tiba di Bandara Kalimarau, Kabupaten Berau, Senin (24/8/2026). Kehadiran armada tersebut menjadi bagian dari upaya menghadapi kondisi kemarau dan ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah Berau.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai melaksanakan OMC yang direncanakan berlangsung selama lima hari.

Dalam operasi tersebut, sebanyak 10 ton bahan semai berupa garam disiapkan. Bahan semai didatangkan dari Jakarta melalui Balikpapan dan akan digunakan untuk mendukung proses penyemaian awan.

Satu unit pesawat Cessna Grand Caravan 208B digunakan dalam operasi tersebut. Setiap sortie penerbangan mampu membawa sekitar satu ton bahan semai.

Analis Kebencanaan Ahli Madya Kedeputian Bidang Penanganan Darurat BNPB, Tono Sumarsono, mengatakan jumlah penerbangan setiap hari bersifat fleksibel dan bergantung pada kondisi atmosfer.Jika potensi awan mencukupi, tim menargetkan pesawat dapat melakukan hingga empat sampai lima sortie dalam sehari.

Proses pemuatan bahan semai juga ditargetkan berlangsung maksimal sekitar 30 menit setelah radar dan analisis meteorologi menunjukkan adanya potensi awan yang dapat disemai.

Pemantauan kondisi cuaca dilakukan sejak pagi hingga malam untuk memastikan peluang terbentuknya awan yang berpotensi menghasilkan hujan dapat dimanfaatkan secara optimal.

Pelaksanaan OMC melibatkan sejumlah instansi, di antaranya BRIN, BMKG, BPBD, pihak Bandara Kalimarau dan TNI AU.

Pesawat Sudah Tiba, Publik Menunggu Hasil

Kehadiran pesawat dan persiapan 10 ton bahan semai tentu menjadi salah satu bentuk ikhtiar pemerintah dan pihak terkait dalam menghadapi Karhutla.

Namun, di tengah kondisi kemarau dan ancaman asap, langkah tersebut juga menghadirkan ekspektasi masyarakat.Pesawat sudah tiba di Berau. Bahan semai sudah disiapkan.

Kini pertanyaan berikutnya adalah seberapa besar dampaknya di lapangan?Sebab, keberhasilan OMC tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah garam yang disiapkan maupun jumlah penerbangan.

Operasi ini tetap bergantung pada kondisi atmosfer dan keberadaan awan yang memenuhi syarat untuk disemai.Karena itu, evaluasi terhadap hasil OMC menjadi penting.

Masyarakat tentunya perlu mengetahui apakah selama lima hari pelaksanaan operasi tersebut benar-benar mampu meningkatkan peluang hujan, membantu mengurangi titik panas dan mendukung penanganan Karhutla.

Kritik dan perhatian publik bukan berarti menolak upaya OMC. Justru sebaliknya, semakin besar langkah yang dilakukan, semakin besar pula harapan masyarakat terhadap hasilnya.

Masyarakat Berau saat ini tidak sekadar menunggu pesawat terbang membawa garam ke langit.Mereka menunggu hujan turun, asap berkurang dan Karhutla benar-benar terkendali.Sebab pada akhirnya, keberhasilan OMC bukan hanya tentang pesawat yang berhasil terbang, tetapi tentang seberapa nyata manfaatnya dirasakan di bawah langit Berau.(*)

sumber foto : prokopim berau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!