Mata Sanggam Production Dorong Festival Berkelanjutan, UMKM dan Lingkungan Jadi Fokus Maratua Musik Festival 2026

TANJUNG REDEB – Maratua Musik Festival (MMF) 2026 tidak hanya dirancang sebagai ajang hiburan dan promosi wisata. Di balik kemeriahan festival yang akan berlangsung pada 30 Juni hingga 4 Juli mendatang, Mata Sanggam Production membawa misi yang lebih besar, yakni mendorong pertumbuhan UMKM lokal sekaligus membangun kesadaran lingkungan melalui berbagai aksi nyata di Pulau Maratua.

Direktur Mata Sanggam Production, Morten, mengatakan pihaknya ingin menghadirkan festival yang tidak hanya meninggalkan kesan meriah, tetapi juga memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat dan lingkungan.

“Kami ingin festival ini memiliki dampak yang lebih luas. Tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi ruang bagi UMKM untuk berkembang dan menjadi momentum untuk mengajak masyarakat serta wisatawan lebih peduli terhadap lingkungan,” ujarnya saat Press Conference Maratua Musik Festival 2026 di Hotel Palmy Exclusive, Jumat (12/6/2026).

Menurut Morten, keberadaan UMKM menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan festival. Ribuan pengunjung yang diperkirakan hadir selama kegiatan berlangsung diharapkan dapat menjadi peluang bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk mereka kepada wisatawan.

Berbagai produk kuliner, kerajinan tangan, hingga hasil ekonomi kreatif masyarakat akan ditampilkan selama festival berlangsung. Kehadiran UMKM tersebut diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat setempat.

“Pariwisata harus memberikan manfaat kepada masyarakat. Karena itu UMKM menjadi salah satu perhatian utama kami dalam pelaksanaan festival ini,” katanya.

Selain sektor ekonomi, Mata Sanggam Production juga menempatkan isu lingkungan sebagai salah satu agenda utama dalam MMF 2026. Sebagai destinasi wisata bahari yang menjadi kebanggaan Berau, Maratua dinilai perlu dijaga melalui keterlibatan seluruh pihak, termasuk melalui event pariwisata.

Untuk itu, panitia menyiapkan sejumlah kegiatan yang berorientasi pada pelestarian lingkungan, mulai dari aksi bersih pantai, penanaman pohon, hingga pelepasan tukik (anak penyu) ke habitat alaminya.

Morten menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan simbol komitmen bersama untuk menjaga keberlanjutan alam Maratua yang selama ini menjadi daya tarik utama wisatawan.

“Keindahan alam adalah aset terbesar Maratua. Karena itu kami ingin festival ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga meninggalkan pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan untuk generasi mendatang,” ungkapnya.

Tak hanya itu, M2F 2026 juga mulai mengampanyekan konsep Zero Plastic Event atau pengurangan penggunaan plastik sekali pakai selama pelaksanaan kegiatan. Meski dilakukan secara bertahap, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun budaya pariwisata yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

“Kami ingin mengurangi penggunaan plastik selama kegiatan berlangsung. Ini memang proses yang harus dilakukan bersama, tetapi kami ingin memulainya dari sekarang sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan pariwisata Maratua,” jelas Morten.

Ia menambahkan, keberhasilan sebuah festival tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung atau kemeriahan panggung hiburan, tetapi juga dari dampak positif yang ditinggalkan setelah kegiatan berakhir.

Melalui pemberdayaan UMKM, kampanye pengurangan sampah plastik, penanaman pohon, dan pelepasan tukik, Mata Sanggam Production berharap Maratua Musik Festival 2026 dapat menjadi contoh bagaimana sebuah event mampu berjalan seiring dengan upaya pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Harapan kami, setelah festival selesai, manfaatnya tetap dirasakan masyarakat dan lingkungan Maratua tetap terjaga. Itu yang menjadi semangat kami dalam menyelenggarakan kegiatan ini,” tutupnya.(*)

Editor : DM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!