Bedah Buku Burakat Banua, Upaya Merawat Jejak Sejarah dan Budaya Berau untuk Generasi Mendatang

TANJUNG REDEB – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Berau menggelar kegiatan bedah buku Burakat Banua karya Putri Aida Syafrani di Aula Lantai 1 Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Berau, Selasa (30/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 11.00 Wita tersebut menghadirkan Rohaini dan Agustiah sebagai narasumber, dengan Evi sebagai moderator.

Kegiatan ini dihadiri berbagai unsur masyarakat, mulai dari pengelola perpustakaan, akademisi, guru sejarah SMA, SMK dan MA, organisasi perempuan, pengelola museum, komunitas literasi, penulis, hingga insan pers di Kabupaten Berau.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Berau, Rabiatul Islamiah, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran seluruh peserta yang telah meluangkan waktu untuk mengikuti bedah buku yang mengangkat sejarah dan budaya lokal Berau tersebut.

Ia mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk komitmen perpustakaan dalam menghadirkan ruang literasi yang terbuka bagi masyarakat.

Menurutnya, perpustakaan saat ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca buku, tetapi juga dapat menjadi wadah berbagai kegiatan edukatif, diskusi, pelestarian budaya, hingga pengembangan kreativitas masyarakat.

“Kami ingin memperkenalkan bahwa Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Berau mampu mengakomodasi berbagai kegiatan masyarakat. Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi juga ruang kolaborasi yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan literasi, budaya, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.

Rabiatul juga menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang selama ini mendukung kegiatan literasi di Berau, termasuk perusahaan, komunitas, organisasi masyarakat, serta para pemerhati budaya dan sejarah daerah.

Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci penting dalam mengembangkan literasi di tengah keterbatasan anggaran yang dihadapi pemerintah saat ini.

Ia berharap kerja sama dengan berbagai pihak dapat terus diperluas sehingga kegiatan literasi dan pelestarian budaya tetap berjalan secara berkelanjutan.

Dalam kesempatan tersebut, Rabiatul juga mengapresiasi kehadiran guru-guru sejarah dari berbagai sekolah di Kabupaten Berau. Kehadiran para pendidik dinilai penting karena memiliki peran strategis dalam menanamkan pemahaman sejarah dan budaya lokal kepada generasi muda.

Selain itu, hadir pula perwakilan organisasi perempuan, komunitas literasi, pengelola museum, penulis daerah, hingga wartawan yang selama ini turut berkontribusi dalam menyebarluaskan informasi pembangunan dan kebudayaan kepada masyarakat.

“Kami bangga dengan para pegiat literasi, komunitas budaya, para penulis, dan juga rekan-rekan media yang terus memberikan informasi kepada masyarakat. Semua memiliki kontribusi besar dalam pembangunan daerah,” katanya.

Dalam sambutannya, Rabiatul menegaskan bahwa Kabupaten Berau memiliki kekayaan sejarah yang luar biasa. Berau tumbuh dan berkembang melalui perjalanan panjang yang diwariskan oleh Kerajaan Gunung Tabur dan Kerajaan Sambaliung, lengkap dengan adat istiadat, bahasa, nilai budaya, dan kearifan lokal yang masih hidup hingga saat ini.

Menurutnya, buku Burakat Banua menjadi salah satu upaya konkret untuk mendokumentasikan dan melestarikan kekayaan tersebut agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

“Kehadiran buku ini merupakan salah satu upaya nyata dalam pendokumentasian, pelestarian, dan pemaknaan nilai-nilai budaya, sejarah, serta adat istiadat yang dimiliki Kabupaten Berau,” ujarnya.

Ia berharap isi buku tersebut dapat menjadi referensi bagi pemustaka, peneliti, pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat umum yang ingin mengenal lebih jauh sejarah dan budaya Berau.

Meski di tengah efisiensi anggaran pemerintah yang berdampak pada sejumlah program dan kegiatan, Rabiatul menegaskan bahwa pihaknya tetap berkomitmen mendukung penerbitan buku-buku bermuatan konten lokal.

Menurutnya, masih banyak penulis daerah yang memiliki naskah dan ingin menerbitkan karya mereka melalui program perpustakaan daerah. Karena itu, pihaknya akan terus berupaya mengakomodasi penerbitan buku lokal sesuai kemampuan anggaran yang tersedia.

“Kami ingin generasi muda tidak terputus dari akar budayanya. Justru mereka harus bangga dan kreatif dalam mengembangkan budaya Berau melalui berbagai karya dan inovasi,” katanya.

Ia juga menyoroti masih adanya pandangan masyarakat yang menganggap perpustakaan hanya sebagai tempat membaca buku. Padahal, menurutnya, banyak potensi yang dapat dikembangkan melalui perpustakaan, termasuk mendukung pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Rabiatul mengungkapkan bahwa ke depan perpustakaan akan lebih terbuka menjadi ruang kolaborasi bagi berbagai kalangan, termasuk UMKM yang ingin mempromosikan produknya melalui kegiatan literasi dan edukasi.

“Literasi tidak hanya berbicara tentang membaca dan menulis. Dari literasi lahir kreativitas, inovasi, bahkan pengembangan usaha masyarakat. Banyak hal yang bisa dilakukan melalui perpustakaan,” jelasnya.

Sementara itu, penulis buku Burakat Banua, Putri Aida Syafrani, menjelaskan bahwa buku yang ditulisnya merupakan gambaran umum mengenai sejarah, budaya, masyarakat, dan kekayaan lokal Kabupaten Berau.

Menurutnya, isi buku tersebut belum mencakup seluruh aspek secara rinci karena keterbatasan ruang penulisan. Namun demikian, buku tersebut diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi lahirnya kajian dan karya tulis lainnya yang lebih spesifik mengenai Berau.Ia menekankan pentingnya budaya menulis sebagai sarana menjaga pengetahuan agar tidak hilang oleh waktu.

“Menulislah maka kita tidak akan hilang dalam sejarah. Ketika suatu saat kita sudah tidak ada, ilmu dan pengetahuan yang ditulis akan tetap hidup, dibaca, dan menjadi bagian dari sejarah,” ujarnya.

Karena itu, Putri berharap semakin banyak masyarakat Berau yang terdorong untuk menulis dan mendokumentasikan berbagai pengetahuan lokal yang dimiliki daerah.Pada sesi bedah buku, Rohaini memberikan apresiasi atas terbitnya Burakat Banua.

Menurutnya, menulis sebuah buku bukanlah pekerjaan mudah karena membutuhkan ketekunan, konsistensi, dan kemampuan menuangkan gagasan ke dalam tulisan yang sistematis.Ia menilai karya tersebut merupakan kontribusi penting dalam memperkaya literatur lokal Berau.

“Tidak semua orang mampu menghasilkan sebuah buku. Karena itu karya ini patut diapresiasi sebagai bentuk kepedulian terhadap sejarah dan budaya daerah,” katanya.

Rohaini menjelaskan bahwa bedah buku bukan semata-mata mencari kekurangan sebuah karya, melainkan memberikan masukan dan penyempurnaan agar isi buku semakin kaya dan bermanfaat bagi pembaca.

Senada dengan itu, Agustiah selaku narasumber pembeda menyampaikan sejumlah catatan terhadap substansi buku. Ia menjelaskan bahwa dirinya hadir bukan sebagai editor atau akademisi, melainkan sebagai praktisi kebudayaan yang memberikan perspektif terhadap isi buku.

Menurutnya, kajian sejarah memiliki tantangan tersendiri karena tidak seluruh informasi dapat ditemukan melalui teknologi digital maupun kecerdasan buatan.

“Banyak informasi sejarah yang berasal dari manuskrip, tradisi lisan, ritual adat, artefak, koleksi etnografi, hingga struktur sosial masyarakat yang harus terus didokumentasikan dan diwariskan,” ujarnya.

Dalam ulasannya, Agustiah memberikan beberapa masukan terkait sejarah Sambaliung, letak geografis tujuh banua, keberadaan makam-makam kesultanan, hingga keberagaman suku asli yang ada di Kabupaten Berau.Ia juga menyoroti pentingnya memasukkan informasi mengenai keberadaan Dayak Ga’ai yang memiliki karakteristik sosial dan budaya tersendiri dalam kehidupan masyarakat pedalaman Berau.

Menurutnya, berbagai masukan tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pengayaan untuk pengembangan dan penyempurnaan buku pada edisi mendatang.Kegiatan bedah buku berlangsung interaktif dengan sesi diskusi dan tanya jawab antara peserta dan narasumber. Antusiasme peserta menunjukkan tingginya perhatian masyarakat terhadap upaya pelestarian sejarah dan budaya lokal.

Melalui kegiatan tersebut, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Berau berharap semangat literasi terus tumbuh di tengah masyarakat serta mendorong semakin banyak lahirnya karya tulis yang mendokumentasikan kekayaan sejarah, budaya, dan identitas daerah sebagai warisan bagi generasi mendatang.

Editor : Dimas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!